[REVIEW] Siddhartha by Hermann Hesse


Siddhartha oleh Hermann Hesse adalah buku kedua yang saya baca di tahun ini. Buku ini bisa diunduh secara gratis di situsnya Project Gutenberg, sebuah situs yang provide so many great books untuk bisa diunduh secara gratis. Buku Siddhartha sendiri kalo gak salah ada dua versi yang available di Project Gutenberg, yaitu versi bahasa Jerman sama bahasa Inggris. Link untuk download buku Siddhartha oleh Herman Hesse versi bahasa Inggris bisa dicek di sini.

Ingin versi bahasa Indonesia? Buku ini udah pernah diterjemahin oleh penerbit Gramedia dan bukunya bisa dibeli di beberapa platform marketplace online. Buat yang mau buku fisik versi bahasa Inggrisnya, in case kalian prefer buku fisik dibandingkan e-book, kalian bisa beli bukunya di toko-toko buku impor online semacam Periplus, Books and Beyond, Opentrolley, Book depository, atau situs-situs lainnya karena gak mungkin saya sebutin satu-satu kan tempat beli bukunya di sini....he he.



Awalnya saya menemukan buku ini adalah lewat fitur recommendations di Goodreads. Buku ini juga sering banget muncul di tangga atas polling-polling buat best book gitu di Goodreads, makanya saya penasaran. Meskipun begitu, saya kadang ragu buat beli buku ini karena beberapa cover alternatif buku ini desainnya kaya... hm, ya gitu deh, wkwk. Desainnya kaya agak-agak jadul gitu, terus selalu ada gambar buddha-nya, dan latarnya suka gelap-gelap gitu warnanya kan bikin spooky wkwk. Padahal sebenernya don’t judge a book by its cover lho, tapi berhubung saya emang gak hobi baca sinopsis buku yang di back cover-nya, makanya saya sering menilai apakah saya akan membeli sebuah buku ato engga lewat cover-nya (jangan ditiru).

Cover buku Siddhartha-nya Hermann Hesse yang bagi saya agak-agak spooky gimana gitu, wkwk.
Anyway, langsung aja ke jalan ceritanya. Jadi pada suatu zaman, hidup lah seorang pria muda bernama Siddhartha. Dia ini keturunan Brahman dan bisa dibilang child prodigy gitu lah di antara para young  Brahman. Ibarat kata nih semua orang kalo liat anak ini udah langsung tau gitu si Siddhartha ini suatu saat bakal jadi ‘orang’.
Tapi, di balik semua itu, Siddhartha sebenernya merasa gak content dengan kehidupan dia sebagai seorang Brahman. Dia ngerasa kalo ajaran-ajaran gurunya gak akan membuat dia mencapai kedamaian yang hakiki. Akhirnya, Siddhartha pun pergi dari kehidupannya yang hampir sempurna itu (anak salah satu scholar Brahman, udah digadang-gadang pula jadi orang hebat) untuk mencari arti kedamaian yang hakiki itu. Kedamaian yang hakiki itu maksudnya kaya semacam bebas dari penderitaan, which is the point of Buddhism. Selama perjalanan, dia ditemani oleh sahabat baiknya, or more like his invisible sidekick (soalnya he’s like without personality gitu dan cuma ngikut-ngikut doang awalnya, wkwk), Govinda (bukan Govinda yang lagunya Mantan Terbaik ya, wkwk).
Demi mencari kedamaian itu, Siddhartha bergabung dengan salah satu aliran yang sebenernya kalo dipikir-pikir agak ekstrim. Lalu karena dia tetap merasa ajaran aliran tersebut wouldn’t lead him to where he wanted to be, dia pun mencari seorang guru yang dibilang sebagai Buddha. Tapi bahkan setelah ketemu sang Buddha pun Siddhartha tetap merasa bahwa no teachings could ever satisfy him. Akhirnya, berbekal dengan prinsip bahwa you can only understand kedamaian yang hakiki kalo lo udah merasakan pahitnya penderitaan, Siddhartha pun memutuskan untuk tidak mengikuti sang Buddha.
Setelah itu, dia sempat terjebak oleh kesenangan duniawi selama sesaat sebelum akhirnya dia menyadari lagi apa sebenernya tujuan dia meninggalkan hidupnya dulu. Saat menyadari bahwa dia salah dan sudah tersesat terlalu jauh, Siddhartha pun meninggalkan semua harta bendanya (by this point dia udah jadi orang kaya, punya rumah dan puluhan pelayan) dan pergi kembali mencari kedamaian yang dia inginkan. In the end, as you can imagine, Siddhartha pun menemukan kedamaiannya lewat caranya sendiri.




Hal yang saya suka dari buku ini adalah buku ini mengangkat tema yang gak umum, apalagi kalo dibandingin sama novel-novel yang populer sekarang. Saya pernah baca buku atau nonton film di mana ada kisah seorang murid yang ngerasa ajaran gurunya udah gak cukup lagi dan memutuskan untuk meninggalkan gurunya (e.g. Orochimaru yang ninggalin Hokage ketiga dan memilih mencari jalannya sendiri, Sasuke yang juga ninggalin Orochimaru karena ilmu Orochimaru dianggap udah gak bisa mengembangkan dirinya lagi, dan Kaecillus di film Doctor Strange yang meninggalkan sang guru untuk mencari keabadian), tapi biasanya tema itu bukanlah tema utama dari ceritanya. Semacam cuma kaya konflik sekunder aja gitu. Itulah yang membuat Siddhartha itu berbeda, meskipun sebenernya kalo novel-novel tentang tema ‘pencarian’ ada juga sih, kaya The Alchemist-nya Paulo Coelho. Buku ini juga punya makna yang cukup bagus, apalagi mungkin bagi orang-orang yang mengerti ajaran Buddha mungkin bakal lebih merasa ngerti banget suffering si Siddhartha ini menuju kedamaiannya dia.

Tapi, yang agak bikin saya gatel adalah cara ngomong orang-orang di buku ini. Saya gak tau emang apakah orang India di zaman tersebut memang bicara dengan cara seperti itu, atau buku ini sebelumnya adalah sebuah play (yang mana biasanya ngomongnya emang rada-rada ribet dan gak to the point), atau emang buku-buku yang terbit di zaman yang sama dengan si Siddhartha memang selalu menggunakan gaya bicara yang formal. Tapi bagi saya, agak-agak lucu aja gitu kalo nemu orang bicara dengan bahasa kaya gitu.
Sebagai contoh:
“O Govinda,” he spoke quietly, “let’s not waste words. Tomorrow, at daybreak I will begin the life of the Samanas. Speak no more of it.”
Terus, selain itu, kadang agak gak sreg juga sama pengembangan karakter dari tokoh-tokoh di novel ini. Kayanya cuma Siddhartha doang yang bener-bener punya karakter sementara tokoh-tokoh lain tuh ya udah, lo juga bakal lupa siapa dia. Semuanya bener-bener flat, seakan-akan tokoh-tokoh tersebt diciptakan emang supaya plotnya bisa jalan aja gitu tanpa punya emosi dan latar belakang yang kuat.
But overall, this is a good book. Apalagi kalo mau memperkaya vocabulary, buku ini bisa lumayan nambah-nambah referensi. Selain itu, lumayan tipis juga wkwk sehingga bisa selesai dengan cepet.

Last but not least, here I will post some of my favorite quotes from the book!










Komentar